spot_img

Berita Terpopuler

spot_img

Berita Terbaru

Duduk Lebih 6 Jam Disebut Ancaman Kesehatan Modern, WHO Ingatkan Risiko Kematian Dini

BATULICIN, RisetPublik.com — Kebiasaan bekerja berjam-jam di balik meja kini tidak lagi dianggap sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat modern. World Health Organization (WHO) bahkan mengategorikan perilaku kurang gerak atau sedentary lifestyle sebagai salah satu masalah kesehatan publik global yang berkontribusi terhadap jutaan kematian setiap tahun.

Kesehatan

Istilah “Sitting is the new smoking” yang dipopulerkan oleh James Levine menyoroti bahaya duduk terlalu lama bagi tubuh manusia. Dalam bukunya berjudul Get Up!: Why Your Chair is Killing You and What You Can Do About It, Levine menjelaskan bahwa duduk statis dalam waktu panjang dapat memicu gangguan metabolisme yang dampaknya disebut menyerupai efek buruk merokok jangka panjang.

Secara medis, tubuh yang minim bergerak selama lebih dari 30 menit mengalami perlambatan aktivitas otot dan metabolisme. Penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet menunjukkan penurunan enzim lipoprotein lipase, yakni enzim penting yang membantu membakar lemak dalam darah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, hingga diabetes tipe 2.

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 30 persen penduduk usia produktif memiliki perilaku sedentari tinggi. Pola kerja kantoran yang minim aktivitas fisik disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya gaya hidup kurang gerak di masyarakat urban.

Para ahli kedokteran olahraga juga mengingatkan bahwa olahraga rutin belum tentu mampu sepenuhnya menekan dampak buruk duduk terlalu lama. Studi dalam American Journal of Epidemiology mengungkapkan individu yang duduk lebih dari enam jam per hari memiliki risiko kematian 19 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang duduk kurang dari tiga jam sehari.

Selain gangguan metabolisme, duduk berkepanjangan juga berdampak pada kesehatan tulang belakang. Tekanan pada cakram intervertebralis di punggung bawah meningkat signifikan saat tubuh terlalu lama berada dalam posisi duduk. Kondisi ini berpotensi memicu nyeri punggung kronis hingga saraf terjepit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP).

Untuk mengurangi risiko tersebut, WHO melalui panduan Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour merekomendasikan jeda aktif setiap 30 menit. Aktivitas sederhana seperti berdiri saat menelepon, melakukan peregangan ringan di meja kerja, berjalan singkat, atau menggunakan tangga dinilai efektif membantu memperbaiki sirkulasi darah dan menjaga metabolisme tubuh tetap aktif.

Kesadaran terhadap bahaya duduk terlalu lama kini menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat modern. Mengurangi waktu duduk dan memperbanyak aktivitas fisik ringan dinilai bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan langkah preventif untuk mencegah penyakit kronis di masa mendatang.

Sumber: rri.co.id

Bagikan :

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita lainnya :