JAWA TENGAH, RisetPublik.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada 2026 berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Fenomena El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau turut meningkatkan potensi kekeringan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan kondisi kemarau di Jawa Tengah saat ini cenderung berada di bawah kondisi normal atau lebih kering.
Menurutnya, El Nino dapat memperparah kondisi tersebut ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. Dampaknya, tingkat kekeringan di sejumlah wilayah berpotensi meningkat.
“Ketika terjadi pada musim kemarau, El Nino semakin menambah keparahannya,” kata Yoga dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (7/9/2026).
BMKG menyebut secara normal sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai memasuki musim hujan pada awal hingga pertengahan Oktober. Perkiraan tersebut mengacu pada rata-rata kondisi cuaca dalam periode 30 tahun.
Namun, berdasarkan pengolahan data terbaru, awal musim hujan 2026 diperkirakan mengalami kemunduran. Beberapa wilayah Jawa Tengah diprediksi baru mulai memasuki musim hujan pada awal November.
Sementara wilayah lainnya diperkirakan menyusul secara bertahap hingga awal atau pertengahan Desember. Dengan demikian, awal musim hujan tidak diperkirakan berlangsung serentak di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Kondisi kemarau yang lebih kering dan mundurnya awal musim hujan menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap ketersediaan air bagi masyarakat. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan selama periode tersebut.
Selain kondisi kemarau, BMKG juga memantau dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Yoga menyampaikan arah angin di lapisan bawah maupun atas saat ini mayoritas bergerak ke barat sehingga Jawa Tengah relatif aman dari paparan abu vulkanik.
Hasil pengujian partikulat di lapisan bawah juga menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, BMKG tetap mengantisipasi kemungkinan adanya debu vulkanik yang berada pada lapisan udara tertentu.
Sumber : kompas.com



